22
Tue, Aug
12 Artikel Baru

Masjid Jami Al-Makmur Tenabang, masjid para ulama-pendekar

Blog
Typography

Beberapa hari lalu, tiga jam sebelum azan zuhur, saya mampir ke Masjid Jami al-Makmur Tanah Abang. Masjid ini merupakan masjid tertua di Tenabang, bahkan salah satu yang paling tua di seluruh Jayakarta. Dibina pada tahun 1704 oleh para mujahidin Kerajaan Mataram saat bersama-sama dengan Mujahidin Jayakarta mengepung Batavia. Projek pembangunannya digagas dan dipimpin seorang tokoh Kerajaan Islam Mataram bernama KH Muhammad Asyuro. Di Tenabang yang dulu konturnya berbukit-bukit (sebab itu ada nama daerah Tenabang Bukit) dan juga penuh dengan paya kecil-kecil, gabungan Mujahidin Mataram dan Mujahidin Jayakarta menjadikan kawasan ini sebagai pangkalan pasukan meriam yang moncongnya diarahkan ke utara, ke pusat Batavia.

Ketika gerakan Pitung alias Pituan Pinulung dibaiat di Pesantren Kebon Pala oleh Kiai Haji Naipin pada tahun 1880, mereka menjadikan masjid ini sebagai salah satu tempat untuk bermesyuarat dan merancang strategi gerakan perlawanan kepada kompeni dan juga terhadap tuan tanah China. Demikian pula dengan Engkong Sabeni, pendekar Tenabang yang usia dan masa hidupnya juga sama dengan para ahli Pitung, sering ke Masjid Al-Makmur.

Pendekar-ulama Tenabang lain yang juga semasa dengan Kong Sabeni dan Pitung, yang juga sering ke Masjid Al-Makmur, antara lain Kong Rachmat bin Haji Abdul Faqir (1860-1935), Mujeni, dan lain-lain. Mereka ini sering berkumpul di Masjid Jami al-Makmur Tenabang.

Masjid Jami Al-Makmur Tenabang merupakan masjid yang sangat bersejarah.

masjid2

Serambi Depan Masjid Jami Al-Makmur Tenabang (sumber: peribadi)

Pagi menjelang siang itu, saya memasuki pelataran masjid dengan perasaan yang sukar dilukiskan. Bangunannya masih sama dengan beratus-ratus tahun lalu, walau cat dan hiasan kaligrafinya sudah tampak lebih baru. Saya datangi satu demi satu pintu gerbang yang masih terkunci. Lalu mata saya melihat seorang lelaki yang memakai seluar panjang kuning dan kaos oblong sedang duduk di sudut tangga masjid. Segelas kopi plastik menemaninya. Saya menghampirinya dan mengucap salam.

Namanya Haji Rusli. Usianya sudah 74 tahun. Tapi jangan salah sangka, susuk tubuhnya masih kelihatan muda, layaknya masih lima puluhan tahun. Saya yang memakai baju hitam dan seluar pangsi hitam terus disambut baik olehnya. Kami bercerita tentang Tenabang Tempo Doeloe. Kebetulan, saya juga lahir dan besar di Tenabang. Jadi nyambung. Dan seperti biasa, topik perbincangan pun menyinggung soal maen-pukulan khas Betawi. Dari Cingkrik, sampai Cing Ram.

"Cuba kamu pegang tangan saya," ujar Haji Rusli menghulurkan tangannya kepada saya. Saya dengan penuh hormat memegang lengan beliau dan ternyata lengannya masih keras untuk orang usia lanjut.

"Pegang yang keras!" Katanya. Saya perkeras pegangan. Tiba-tiba dia memutar lengannya dan pegangannya pun terlepas. Dia tertawa.

"Itu salah satu bukaan kuncian Cing Ram," ujarnya. Dia pun banyak bercerita soal Silat Cing Ram yang berasal dari Haji Rachmat bin Haji Abdul Faqir, yang merupakan salah satu ilmu silat andalan Mujahidin Jayakarta.

Saya kemudian teringat seorang lelaki tua, orang Betawi juga, di Setu Babakan, yang juga berbual dengan saya dan ketika bersalaman, ternyata tangannya sangat keras bagai batu. Itu bukan sembarang tangan!

Orang-orang tua Betawi, mungkin tampak di luaran lucu-lucu dan banyak orang-orang yang mengaku moden tersenyum sinis dan berkata kampungan. Apalagi kalau mereka tengah main Cingkrik dan sebagainya. Banyak yang memandang sebelah mata. Tapi cuba dekati dan berbual dengan mereka. Anda akan terkagum-kagum dengan pengetahuan soal agama dan juga tentu saja tarekat. Dan bagi yang memandang sebelah mata ilmu maen-pukulan asli Betawi, cuba saja tantang mereka. Anda akan dilancarkan habis olehnya dalam hitungan detik. Inilah yang dulu ditakuti penjajah Belanda.

Masjid Jami al-Makmur Tenabang merupakan salah satu saksi bisu sejarah kebesaran para Mujahidin Jayakarta yang sampai sekarang masih tegak berdiri. Jasmerah, jangan lupakan sejarah. Di sela-sela kesibukanmu, kunjungilah masjid-masjid bersejarah dan berkhalwatlah untuk beberapa lama. Sepi itu indah. Sekurang-kurangnya bagi nuranimu. [Rizki Ridyasmara]

Resensi Buku: PreOrder Digest 10, Untold History 2, Penggelapan Sejarah Sejak Pergerakan Nasional Hingga Reformasi