Kesan anutan materialisme

Nasional
Typography

SELAGI hidup di dunia, kita tidak boleh mengelak dari mendapatkan kepentingan material. Ia tidaklah dilarang selagi tidak menceroboh batas halal dan haram.

Yang menjadi bahana adalah apabila manusia menganut falasi materialisme yang menyebabkan mereka menganggap kepentingan material merupakan matlamat utama dalam kehidupan. Lalu mereka menjadikan nilai kebendaan sebagai pengukur untuk menentukan benar dan salah.

Korupsi yang sempit

Hasil dari pembaris bengkok materialisme yang kononnya mengukur benar dan salah semata-mata berdasarkan nilai kebendaan, mengakibatkan manusia hanya memahami korupsi pada skop yang cukup sempit. Kita mendapati mereka cukup sensitif dengan korupsi yang berkaitan dengan material seperti rasuah. Sementara korupsi-korupsi lain dianggap sebagai perkara remeh.

Penganut materialisme tidak menganggap Liberalisme sebagai korupsi iman. Golongan LGBT yang hakikatnya mengalami korupsi fitrah, tiba-tiba diperuntukkan simpati seolah-olah mereka mempunyai hak untuk mengkorupkan fitrah diri sendiri. Akhlak masyarakat yang korup, dianggap sebagai hak kebebasan untuk mengekspresikan kemahuan sesuka hati.

Apabila diingatkan berkenaan senario masyarakat yang mengalami korupsi iman, jiwa, akhlak dan fitrah, maka mereka beralasan kononnya itu semua adalah urusan peribadi masing-masing. Asalkan tidak mengamalkan rasuah kata mereka. Ternyata golongan materialis hanya memahami korupsi dari sudut wang ringgit semata-mata.

Aplikasi Maqasid Materialis

Golongan yang menganut materialisme, kononnya suka mengemukakan aplikasi maqasid betapa Islam memelihara hak harta semata-mata. Sedangkan di dalam tingkatan Maqasid Syariah, Islam mengajar agar kita memelihara agama, nyawa, akal, maruah keturunan dan yang terakhir adalah harta.

Mereka tidak nampak murtad dan penyelewengan agama merupakan ancaman terhadap maqasid memelihara agama. Mereka tidak nampak membiarkan jenayah berleluasa tanpa pelaksaan Undang-undang Allah sebagai ancaman terhadap maqasid memelihara nyawa. Mereka tidak nampak pesta arak sebagai ancaman terhadap akal masyarakat. Mereka tidak nampak masalah sosial dan kecamuk LGBT sebagai ancaman terhadap maqasid memelihara keturunan.

Yang mereka nampak, hanyalah korupsi yang membabitkan wang ringgit sebagai ancaman utama terhadap nilai kehidupan manusia.

Materialistik

Dari kedangkalan materialisme, melahirkan masyarakat yang liar. Semuanya dinilai dengan kebendaan hingga mengesampingkan nilai-nilai lain yang hakikatnya memanusiakan manusia.

Mereka menganggap kononnya manusia semata-mata ada perut yang perlu diisi, lantas mereka meninggalkan elemen agama, nyawa, akal dan maruah. Sedangkan semua itu adalah terlalu penting dalam melahirkan masyarakat yang tidak korup.

ABDUL MU'IZZ MUHAMMAD
Ketua Urusan Ulamak
PAS Kawasan Klang
8 Julai 2018. - HARAKAHDAILY 8/7/2018